FREE SHIPPING SE-INDONESIA

Mengenal Istilah 'Burnout' dalam Pekerjaan

Mengenal Istilah 'Burnout' dalam Pekerjaan

Kerja keras boleh, mental breakdown jangan.


Pasti kamu pernah merasa lelah saat bekerja, kan? Namun saat kamu menerima tekanan secara terus-menerus, tanpa kamu sadari, mungkin saja kamu sedang mengalami burnout syndrome. Menurut World Health Organization (WHO), burnout syndrome adalah sebuah kondisi kelelahan berkepanjangan akibat pekerjaan yang ditandai dengan rasa lelah secara emosional maupun fisik, kesal dengan pekerjaan, dan perasaan tidak puas.

Kondisi ini membuat kamu seperti kehabisan energi untuk melakukan apa-apa sehingga mengurangi produktivitas kerjaanmu. Jika dibiarkan, burnout syndrome ini tidak hanya akan mengganggu pekerjaan, tapi juga kehidupan pribadi dan kesehatanmu.

 

Ciri-ciri burnout

Apakah kamu sedang mengalami burnout? Mungkin saja. Faktanya, burnout ini bisa terjadi pada siapapun dan dalam jenis kerjaan apapun. Contohnya adalah merawat orang sakit, bekerja keras namun menerima minim apresiasi, jarang istirahat, atau menyimak berita buruk pandemi Covid-19 dalam waktu berkepanjangan. Berikut adalah ciri-ciri orang yang sedang mengalami burnout:

  • Rasa enggan untuk bangun dari tempat tidur setiap pagi
  • Sangat pesimistis dan putus asa dalam menjalani hidup
  • Kehilangan motivasi, semangat, dan harapan
  • Prestasi yang terus menurun
  • Sulit berkonsentrasi
  • Mudah tersinggung dengan rekan kerja, pelanggan, atau klien
  • Merasa tak ada yang membantu dan terjebak dalam pekerjaan

 

Penyebab burnout

Gejala burnout syndrome ini sebenarnya tidak terjadi hanya dalam semalam, namun secara bertahap. Kamu mungkin tidak merasakan gejala tertentu pada awal kemunculannya, tetapi kemudian menjadi lebih buruk seiring berjalannya waktu. Apa aja sih penyebabnya?

  • Pekerjaan terlalu menumpuk
  • Tidak dihargai ketika bekerja
  • Bayangan tentang pekerjaan yang tidak jelas
  • Dinamika tempat kerja yang buruk, seperti bullying di tempat kerja
  • Jenis pekerjaan yang monoton atau bahkan terlalu dinamis
  • Tidak ada dukungan sosial, karena pekerjaannya membuatmu mengisolasi diri dari orang lain atau kehidupan pribadi.
  • Tidak seimbangnya work-life balance

Namun, tahukah kamu? Masalah kesehatan mental ini cenderung dialami orang dengan kepribadian perfeksionis, orang dengan jam kerja tinggi, merawat orang sakit, atau mengasuh anak di rumah.

BACA JUGA: TANDA-TANDA SEBAIKNYA KAMU PUTUS

 

Mengatasi burnout

 

Sebenarnya ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah tapi hal ini membutuhkan kerja sama dari semua pihak termasuk pihak perusahaan dan pekerja itu sendiri. Perusahaan bisa menanamkan budaya kerja yang transparan, atasan selalu mengapresiasi usaha karyawan, dan memperhatikan work-life balance demi kesejahteraan karyawan. Dengan begitu, keinginan karyawan untuk resign semakin berkurang. Kalau kamu adalah pekerja, kamu bisa mencoba cara-cara berikut:

1. Cari sisi positif dari pekerjaan

Meskipun kamu merasakan pekerjaanmu begitu berat dan melelahkan, cobalah untuk berfokus pada hal positifnya atau hal yang kamu sukai. Sebagai contoh, pekerjaan ini menyulitkan, tetapi kamu senang ketika melihat tim atau klienmu terbantu atas apa yang kamu kerjakan. Bahkan, hal sesederhana teman-teman kerja yang asyik di tengah buruknya lingkungan kerja dan pekerjaan pun bisa menjadi hal yang positif.

2. Berteman dengan rekan kerja

Terkadang, teman-teman di lingkungan kerja bisa membuat stres karena pekerjaan sehari-hari berkurang. Itulah mengapa membangun hubungan yang erat dengan sesama rekan kerja merupakan hal yang penting. Berteman dengan rekan kerja akan memudahkan harimu melalui obrolan-obrolan kecil dan canda tawa antar satu sama lain.

3. Menjaga keseimbangan hidup

Jika kamu merasa pekerjaanmu begitu menyebalkan, cobalah temukan dirimu dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan teman-teman terdekat. Orang-orang ini pasti sangat menghargai keberadaanmu, bahkan bisa menjadi sumber kekuatan untuk melanjutkan hari-harimu. Selain berbincang dengan orang terdekat, kamu juga bisa menemukan hobi atau aktivitas lain yang membuatmu senang atau merasa passionate.

4. Manfaatkan cuti

Jika memang kondisi burnout ini benar-benar tak terhindarkan, cobalah istirahat sejenak dari rutinitas pekerjaanmu dengan mengambil cuti. Gunakan waktu cuti ini untuk “mengisi ulang” tenaga serta menyegarkan pikiranmu yang dari kemarin sudah sangat ruwet.

Terakhir, jika burnout ini sudah tidak tertolong sampai kamu mengalami depresi, lebih baik segera mencari pertolongan dari tenaga kesehatan mental profesional, ya! Because you matter.


Bagaimana? Apakah kamu sedang mengalami burnout? Oh ya, jangan sampai salah mengartikan stres/depresi sebagai burnout, ya! Stres dan burnout adalah dua hal yang berbeda. Jika burnout syndrome ini biasanya berhubungan dengan pekerjaan, namun tidak dengan depresi. Penyebab depresi umumunya tidak hanya datang dari pekerjaan, namun juga kehidupan pribadi seperti masalah keluarga, percintaan, dll.

Comments 25

Frisca on

oh namanya burn out toh :)

anya on

relate bgtt😭

Momo on

mau cuti tapi kepikiran kerjaan terus

Hahaha on

Stres gue kerja

mia on

can relateeee🥺

Babibu on

Duh keknya gue gitu deh

Mantap on

Mantap speechless

gina6542 on

hmmm interesting

nana on

waduhhh…..

Keny on

Hmmm

Martha on

susah banget tp jujur cari work-life balanced yg pas tuh😔😔

andreanwintersangpenakluk on

didasari doa semua akan kembali pada waktunya :)

kuskus on

kantor aku ngikutin ini bgt sihhh

Canka on

Work life balance perlu bgt emgg

pin on

gara gara ini blog aku jadi mau resign dari kantor soalnya burnt-out

Leave a comment